Dampak Proyek Jembatan Sentong: Jalan Rusak, Ambulans Terhalang Portal, Pemkab Bondowoso Panen Kritik Miris

​Bondowoso, Obor Rakyat — Niat hati ingin menikmati infrastruktur yang lebih baik, warga Kabupaten Bondowoso justru harus menelan pil pahit. Dampak dari pengerjaan proyek pembangunan Jembatan Sentong yang berada di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jawa Timur kini menyisakan kondisi miris bagi keselamatan dan kenyamanan mobilitas warga setempat.
Ambulan saat melintas jembatan Koncer terhalang portal. (Ilustrasi)

​Bondowoso, Obor Rakyat — Niat hati ingin menikmati infrastruktur yang lebih baik, warga Kabupaten Bondowoso justru harus menelan pil pahit. Dampak dari pengerjaan proyek pembangunan Jembatan Sentong yang berada di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jawa Timur kini menyisakan kondisi miris bagi keselamatan dan kenyamanan mobilitas warga setempat.

​Alih-alih memperlancar arus lalu lintas, proyek tersebut memicu gelombang kerusakan berat di sejumlah ruas jalan alternatif milik kabupaten. Imbas pengalihan arus kendaraan bertonase besar, jembatan-jembatan vital sekunder mengalami penurunan kualitas struktur hingga bolong dan retak-retak.

​Dilema Portal dan Insiden Ambulans Terhalang

​Puncak ironi dari situasi ini terjadi ketika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso mengambil langkah darurat dengan memasang portal pembatas di Jembatan Koncer, Jalan Aip Mugiman. Kebijakan ini terpaksa diambil demi mencegah keruntuhan jembatan yang kian parah akibat terus-menerus digerus truk bermuatan berat.

​Namun, solusi darurat tersebut justru berujung nestapa. Pemasangan portal menuai sorotan tajam setelah sebuah ambulans yang mengangkut pasien darurat asal Kabupaten Situbondo dilaporkan gagal melintas akibat terhalang bentangan portal.

Kejadian miris ini memantik amarah publik yang kemudian melayangkan kritik keras terhadap kebijakan pejabat daerah.

Aktivis Sebut Pejabat Kabupaten “Salah Sasaran” Hujatan

​Melihat polemik yang kian memanas, aktivis asal Bondowoso, Syayudi, angkat bicara. Ia menilai adanya ketimpangan pemahaman di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Sengketa Revitalisasi SDN Bondowoso: DPRD Desak Usut Dugaan Pencatutan Nama

Menurutnya, Pemkab Bondowoso justru berada dalam posisi serba salah akibat dampak proyek yang sebenarnya dikelola oleh pemerintah tingkat provinsi.

​”Yang dikritik habis-habisan pejabat pemerintah kabupaten. Sedangkan pejabat provinsi tenang-tenang saja. Turunlah ke Bondowoso,” ujar Syayudi saat ditemui di Bondowoso, Minggu (11/10/2026).

​Syayudi mendesak Gubernur, Wakil Gubernur, serta pejabat terkait di lingkungan Pemprov Jawa Timur untuk tidak sekadar memantau dari balik meja.

Ia meminta pihak provinsi segera turun ke lapangan guna melihat langsung kerusakan infrastruktur dan dampak sosial yang ditanggung masyarakat Bondowoso.

Kerusakan Infrastruktur Meluas

​Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa alokasi jalan alternatif tidak mampu menampung beban kendaraan berat dari pengalihan jalur proyek utama. Kerusakan tidak hanya terjadi pada ruas jalan, tetapi juga mengancam kekuatan struktur jembatan lainnya.

​”Jalan banyak yang rusak, jembatan banyak yang retak, seperti Jembatan Koncer dan Jembatan Dumas di Desa Sumber Salam akibat dijadikan jalan alternatif,” ungkap Syayudi memungkasi.

​Kondisi ini menjadi potret miris buruknya mitigasi dan koordinasi lintas instansi dalam pengerjaan proyek infrastruktur. Pada akhirnya, warga kecil dan pelayanan publik darurat seperti armada kesehatan yang harus menanggung akibatnya di lapangan. (*)


Penulis: Latif J
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *