Daerah  

Sarat Cacat Teknis, Pembangunan Jembatan Sentong Mastrip Rp13,9 M Tuai Sorotan

Jembatan sentong.

Bondowoso, Obor Rakyat — Pelaksanaan proyek Pekerjaan Penggantian Jembatan Sentong pada Ruas Jalan Mastrip (Link 35.056.13K) di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga Provinsi Jawa Timur (UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan Jember) menuai sorotan tajam terkait kualitas material dan keandalan struktur bangunan pendukung.

​Proyek bersumber dari APBD TA 2026 senilai Rp 13.999.903.805,00 dengan Nomor Kontrak 600.1.8.1/0571/KTR/103.1/2026 tersebut dikerjakan oleh penyedia jasa PT Tri Jaya Cipta Makmur dan diawasi oleh konsultan PT Mitra Cipta Engineering dengan masa pelaksanaan 250 hari kalender.

​Secara spesifikasi teknis, Jembatan Sentong (Nomor Jembatan P.35.056.03.13K) dirancang menggunakan tipe bangunan atas Gelagar Pra-Tekan I (GPI) single bentang sepanjang 45,80 meter di koordinat SBY 198 + 017 (7° 56’ 00.2” S / 113° 48’ 50.1” E).

​Namun, hasil verifikasi teknis dan pantauan langsung di lapangan mengindikasikan adanya dugaan ketidaksesuaian spesifikasi (off-spec) serta deviasi kontrol kualitas (QC) pada elemen struktur pelengkap:

  • ​Degradasi Mutu Adukan Semen (Mortar Mix) pada Dinding Penahan Tanah (DPT): Penggunaan agregat halus (pasir) yang terindikasi mengandung kadar lumpur/tanah (silt content) tinggi pada campuran adukan batu kali penahan tanah dan struktur pembatas (abutment protection). Keberadaan deposit lumpur yang melebihi ambang batas toleransi SNI berpotensi menurunkan daya lekat (bonding capability) matriks semen-agregat, menaikkan tingkat porositas, serta memicu penurunan kapasitas dukung lateral (lateral bearing capacity) struktur penahan dalam jangka panjang.
  • Cacat Finis dan Workmanship Rendah pada Concrete Barrier: Pengecoran elemen pengaman tepi jembatan (dinding pengaman/concrete barrier) menunjukkan visualisasi permukaan yang tidak presisi, sarat akan cacat permukaan (honeycombing/porous), serta finishing yang tidak memenuhi standar geometris dan estetika jalan provinsi. Hal ini mengindikasikan lemahnya kontrol cetakan (formwork/bekisting) serta vibration control saat penuangan beton cair.
Baca Juga :  Tangis di Balik Kemewahan Jembatan Sentong: Hak Buruh dan Warga Lokal Terkubur Dana Belasan Miliar
  • Integritas dan Legalitas Pasokan Agregat Material: Penggunaan material pasangan batu, agregat pengisi, serta struktur bronjong (gabion) di area tapak jembatan memicu pertanyaan teknis mengenai asal-usul persetujuan sampel material (approval material) dan sertifikasi kualifikasi galian C pelaksana.

​Warga dan pengguna jalan di lokasi menyayangkan rendahnya kendali mutu (quality control) pada proyek bernilai belasan miliar rupiah tersebut.

“Proyek infrastruktur kelas provinsi dengan anggaran besar ini memperlihatkan kualitas finishing dan pengerjaan yang tidak rapi serta jauh dari standar teknis,” ujar salah satu warga di lokasi.

​Saat dimintai konfirmasi teknis terkait pengujian slump test, cube/cylinder compressive strength, hingga sertifikasi kelayakan material di lapangan, pihak UPT PJJ Jember Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur maupun kontraktor pelaksana memilih tidak memberikan tanggapan teknis.

​”Maaf kami tidak bisa memberikan keterangan terkait progres proyek ini,” ujar salah satu perwakilan di lapangan singkat.

​Lemahnya respons transparansi publik dan bungkamnya pengawas lapangan memperkuat desakan agar Inspektorat Daerah serta instansi pengawas teknis independen segera melakukan pengujian laboratorium (audit sampling material, uji kuat tekan beton, dan uji kadar lumpur agregat) guna memastikan keselamatan struktur dan mencegah potensi kerugian keuangan negara akibat penurunan mutu bangunan infrastruktur. (*)


Penulis: Latif J
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *