Daerah  

Gaya Konstruksi Kontras di Bondowoso: Kerapian Jembatan Pemkab Berbanding Terbalik dengan Finishing Jembatan Pemprov

Bondowoso, Obor Rakyat — Perbedaan kualitas pengerjaan dinding pembatas (parapet) jembatan antara milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) memicu sorotan publik. Meski sama-sama berfungsi sebagai sarana pendukung keselamatan lalu lintas, mutu finishing konstruksi kedua jembatan tersebut dinilai memiliki ketimpangan yang cukup mencolok.
Perbandingan jembatan Pemkab Bondowoso vs Pemprov Jatim.

Bondowoso, Obor Rakyat — Perbedaan kualitas pengerjaan dinding pembatas (parapet) jembatan antara milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) memicu sorotan publik. Meski sama-sama berfungsi sebagai sarana pendukung keselamatan lalu lintas, mutu finishing konstruksi kedua jembatan tersebut dinilai memiliki ketimpangan yang cukup mencolok.

​Berdasarkan pantauan di lapangan, proyek pembatas Jembatan Ki Ronggo milik Pemkab Bondowoso hadir dengan pengerjaan yang tergolong rapi. Mengusung ornamen batu belah bermotif ekspos natural yang dibingkai warna hijau muda, struktur ini memberikan nilai estetika lokal serta keserasian dengan lingkungan sekitarnya.

​Kondisi berbeda terlihat pada infrastruktur Jembatan Sentong di Kabupaten Bondowoso yang berada di bawah kewenangan Pemprov Jatim. Meski memilih skema warna kontras kuning cerah dan bingkai hitam guna memenuhi standar keselamatan jalan raya (safety margin) agar terlihat jelas oleh pengemudi pada malam hari, hasil akhir pengerjaannya menuai kritik.

​Kualitas finishing pada dinding pembatas Jembatan Sentong terkesan terburu-buru dan kurang rapi. Permukaan cat dan plasteran semen di beberapa sudut terlihat kasar serta tidak presisi, sehingga mengurangi nilai keindahan dan kesan profesionalitas dari sebuah fasilitas publik yang dibiayai dana APBD provinsi.

​Kedua bangunan infrastruktur ini mencerminkan kontras pendekatan antar-instansi. Pemkab Bondowoso dinilai berhasil mengombinasikan kerapian teknik dan estetika lingkungan, sementara Pemprov Jatim yang menekankan aspek fungsionalitas dan visibilitas justru dinilai mengabaikan standar ketelitian akhir pengerjaan (finishing quality).

​Masyarakat berharap PU Binamarga Provinsi Jawa Timur segera melakukan evaluasi dan pembenahan terhadap hasil pengerjaan Jembatan Sentong.

Evaluasi berkala dianggap penting agar pemenuhan standar keselamatan jalan tidak mengorbankan mutu, estetika, dan kebersihan fisik bangunan infrastruktur publik. (*)

Baca Juga :  Sarat Cacat Teknis, Pembangunan Jembatan Sentong Mastrip Rp13,9 M Tuai Sorotan

Penulis: Latif J
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *