
Bondowoso, Obor Rakyat — Di balik mulusnya aspal Jembatan Sentong yang resmi dibuka untuk lalu lintas umum (open traffic) pada Jumat (6/11/2026), tersimpan penderitaan mendalam dari para pekerja kasar dan warga kecil.
Pembangunan jembatan di bawah naungan UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Jember Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur yang menelan anggaran APBD senilai lebih dari Rp13 miliar tersebut menyisakan duka: hak-hak buruh dan penyedia konsumsi lokal diduga kuat ditunggak hingga belasan juta rupiah.
Proyek monumental yang dikerjakan oleh pelaksana PT Jaya Cipta Makmur ini kini memang berdiri kokoh dan melayani mobilitas masyarakat. Namun, bagi para pekerja yang memeras keringat di lapangan, jembatan tersebut menjadi saksi bisu atas janji-janji kesejahteraan yang tak kunjung dipenuhi.
Sejumlah buruh bangunan mengaku terpaksa menghentikan aktivitas kerja mereka jauh sebelum jembatan resmi difungsikan. Pilihan pahit itu diambil akibat upah kerja selama hampir satu bulan tidak kunjung dicairkan oleh manajemen pelaksana.
”Kami terpaksa berhenti bekerja karena hampir sebulan tidak dibayar,” ujar seorang pekerja asal Bondowoso dengan nada pilu seraya meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Bagi mereka yang menggantungkan nasib dari upah harian, tidak diterimanya hak selama berminggu-minggu berakibat fatal pada dapur rumah tangga yang tak lagi ngebul.
Penderitaan akibat tunggakan proyek bernilai belasan miliar rupiah ini tidak hanya menggerus hidup para pekerja fisik. Sektor usaha kecil masyarakat lokal pun turut menjadi korban.
Salah seorang warga setempat yang mengoperasikan warung konsumsi untuk menyuplai makanan para pekerja proyek kini harus gigit jari lantaran tagihan makan malam dan siang para pekerja belum dilunasi.
Akumulasi tunggakan pembayaran gaji buruh serta biaya konsumsi warga lokal tersebut ditaksir mencapai belasan juta rupiah , sebuah angka yang sangat berarti bagi kelangsungan hidup rakyat kecil, namun seolah tak berharga di tengah megah alokasi anggaran proyek.
Saat dikonfirmasi mengenai persoalan kemanusiaan dan dugaan kelalaian pembayaran hak-hak pekerja di area wewenangnya, Kepala UPT PJJ Jember, Tutut Putro, terkesan enggan memberikan solusi konkret dan melempar seluruh tanggung jawab kepada pihak rekanan.
”Hari ini penyedia tidak datang,” jawab Tutut singkat saat dikonfirmasi di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT Jaya Cipta Makmur selaku kontraktor pelaksana belum memberikan klarifikasi resmi maupun kepastian tanggal pelunasan atas tunggakan hak-hak buruh dan warga setempat.
Kini, kendaraan melintas dengan bebas di atas Jembatan Sentong yang megah. Namun bagi para buruh dan warga kecil di sekitarnya, jembatan itu hanya menyisakan kegetiran: keringat yang telah mengering tanpa bayaran, dan harapan akan keadilan yang masih menggantung. (*)
Penulis: Latif J
Editor: Redaksi