Daerah  

Warga Bondowoso Patungan Cor Jalan Rusak, Muncul Julukan “Kota Swadaya”

Bondowoso, Obor Rakyat — Krisis infrastruktur jalan di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, memicu gelombang aksi swadaya masyarakat.
Papan nama perbaikan jalan bertuliskan swadaya masyarakat.

Bondowoso, Obor Rakyat — Krisis infrastruktur jalan di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, memicu gelombang aksi swadaya masyarakat.

Warga di sejumlah kecamatan kini turun langsung memperbaiki jalan rusak menggunakan dana patungan demi menjaga keselamatan pengguna jalan.

Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial hingga memunculkan julukan baru dari masyarakat: “Bondowoso Kota Swadaya.”

Aksi gotong royong dilakukan mulai dari tambal sulam jalan berlubang, pengecoran jalan desa, hingga penggalangan dana sukarela untuk membeli material bangunan seperti semen, pasir, dan batu.

Salah satu aksi terbaru terjadi di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogosari. Warga setempat memperbaiki ruas jalan sepanjang sekitar 2,5 kilometer secara mandiri karena jalan rusak dinilai membahayakan pengendara, terutama saat musim hujan dan malam hari.

Baca Juga :  Skandal Penyaluran KUR BRI Unit Tapen Bondowoso, Diduga Rugikan Negara Miliaran Rupiah

“Kalau menunggu pemerintah, entah sampai kapan jalannya diperbaiki,” ujar salah satu warga dalam video aksi swadaya yang viral di media sosial, Jumat malam (22/5/2026).

Keluhan jalan rusak juga banyak disampaikan warga di wilayah Dapil III Bondowoso yang meliputi Kecamatan Tlogosari, Sumberwringin, Sukosari, Pujer, hingga Ijen. Dalam berbagai forum reses DPRD, masyarakat mengaku kerusakan jalan kabupaten di wilayah mereka sudah berlangsung bertahun-tahun dan belum mendapat penanganan maksimal.

Tidak sedikit warga yang memilih melakukan pengecoran pada malam hari agar tidak mengganggu lalu lintas.

Semangat gotong royong warga menuai simpati luas, namun sekaligus menjadi sorotan tajam terhadap lambannya penanganan infrastruktur oleh pemerintah daerah.

Aksi gotong royong dilakukan oleh warga dalam perbaikan jalan.

Bagi masyarakat desa, jalan rusak bukan sekadar persoalan kenyamanan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga, termasuk distribusi hasil pertanian, aktivitas perdagangan, hingga mobilitas pelajar.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso diketahui menargetkan perbaikan 134 titik jalan pada tahun 2026 melalui Program RANTAS (Ruas Infrastruktur Jalan Tuntas) yang dibiayai APBD secara bertahap.

Namun, sebagian warga menilai program tersebut belum mampu menjawab kondisi darurat infrastruktur yang kini terjadi hampir di seluruh wilayah Bondowoso.

Di tengah keterbatasan dan kekecewaan, masyarakat akhirnya memilih bergerak sendiri demi keselamatan bersama.

Kini pertanyaan besar terus muncul di tengah warga: sampai kapan rakyat harus memperbaiki jalan yang menjadi tanggung jawab pemerintah?. (*)


Penulis: Syayudi
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *