Daerah  

Restorasi Jembatan Kironggo, Upaya Memulihkan Estetika Urban Bondowoso

Bondowoso, Obor Rakyat – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso secara resmi menginisiasi langkah strategis penataan kembali (revitalisasi) kawasan Jembatan Kironggo.
Sinergi lintas sektor: Pemkab Bondowoso optimalkan ruang publik Kironggo.

Bondowoso, Obor Rakyat – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso secara resmi menginisiasi langkah strategis penataan kembali (revitalisasi) kawasan Jembatan Kironggo.

Upaya ini diproyeksikan sebagai langkah awal untuk mengaktivasi kembali salah satu destinasi wisata malam yang sempat menjadi ikon kebanggaan serta sentra interaksi sosial masyarakat setempat.

​Aksi kolektif berupa pembersihan lingkungan (clean-up action) yang berbasis gotong royong ini dilaksanakan pada Kamis (9/7/2026).

Agenda ini dimotori oleh sinergi lintas sektoral, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (BSBK), serta didukung oleh sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemkab Bondowoso.

Baca Juga :  Bupati Bondowoso Lantik 41 Pejabat, Titip Visi 'Bondowoso Berkah' dan Pesan: Jabatan Adalah Amanah

​Urgensi Restorasi Estetika Kota

​Secara historis, kawasan Jembatan Kironggo merupakan destinasi favorit masyarakat berkat tata cahaya urban (urban lighting) yang estetik pada malam hari.

Kendati demikian, akibat depresiasi fasilitas dan keterbatasan pemeliharaan berkala, daya tarik kawasan ini perlahan mengalami degradasi. Malafungsi pada infrastruktur penerangan, akumulasi limbah domestik di beberapa titik, serta minimnya perawatan vegetasi sekitar memicu penurunan volume kunjungan wisatawan dan intensitas aktivitas ekonomi lokal. ​

Merespons fenomena tersebut, Pemkab Bondowoso mengambil tindakan preventif dan korektif. Berdasarkan pemantauan di lapangan, intervensi yang dilakukan meliputi reduksi tumpukan sampah di area kolong jembatan, penataan zonasi vegetasi melalui pemangkasan semak belukar, serta mobilisasi pengangkutan sampah demi mengembalikan higienitas dan estetika lingkungan.

Pendekatan Bertahap dan Berkelanjutan

​Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bondowoso, Henry Kurniawan, mengonfirmasi bahwa aksi ini merupakan bagian dari manifestasi program kerja rutin dalam menjaga sanitasi lingkungan. Namun, ia juga menggarisbawahi perlunya rekonstruksi yang menyeluruh di kawasan tersebut.

​”Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen reguler kami. Kendati demikian, kami mengidentifikasi adanya kebutuhan mendesak untuk penataan komprehensif, khususnya pada restorasi fasilitas penerangan publik. Tujuannya adalah menciptakan ruang publik yang memenuhi standar kenyamanan, keamanan, serta memiliki nilai distingsi yang kuat bagi kepuasan publik,” jelas Henry.

​Restorasi Jembatan Kironggo diharapkan tidak sekadar berorientasi pada aspek visual (beautifikasi), melainkan mampu memberikan dampak pengganda (multiplier effect) terhadap stimulasi ekonomi kerakyatan melalui sektor pariwisata mikro.

​Konstruksi Kesadaran Sipil

​Keberlanjutan fungsi ruang publik yang representatif ini pada hakikatnya memerlukan pemenuhan asas kepatuhan sosial. Keberhasilan program pemeliharaan kota ini tidak dapat bertumpu eksklusif pada aparatur pemerintah, melainkan menuntut adanya ko-responsibilitas dari masyarakat sipil.​Implementasi budaya hidup bersih, seperti internalisasi perilaku membuang sampah pada tempat penampungan yang semestinya, menjadi instrumen krusial, termasuk di area vital lainnya seperti Alun-alun Raden Bagus Asra Kironggo.

Melalui kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang responsif (top-down) dan kesadaran ekologis masyarakat (bottom-up), Jembatan Kironggo diproyeksikan mampu kembali memantapkan posisinya sebagai landmark urban yang berkelanjutan dan membanggakan. (*)


Penulis: Latif J

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *