
Manggarai, Obor Rakyat — Narasi besar tentang percepatan pembangunan desa seolah berbenturan dengan realitas pahit di pelosok Pesisir Selatan Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ribuan warga di tiga desa, yakni Desa Langgo, Desa Tado, dan Desa Koak di Kecamatan Satarmese hingga kini masih terisolasi akibat ketiadaan jembatan permanen di aliran Kali Iwul dan Kali Wae Kuse.
Demi menjaga urat nadi kehidupan tetap berdenyut, warga terpaksa bergotong royong mendirikan jembatan kayu darurat secara swadaya.
Ironisnya, untuk melintasi jembatan tersebut, setiap pengguna jalan, termasuk para tenaga pendidik dikenakan biaya penyeberangan sebagai dana perawatan dan operasional.
Beban Guru di Garis Depan Pendidikan
Sektor pendidikan menjadi salah satu korps yang paling terdampak oleh ketimpangan infrastruktur ini. Seorang guru yang sehari-hari mengajar di kawasan tersebut mengungkapkan raut keprihatinannya atas beban finansial tambahan yang harus ia tanggung demi bisa mengabdi.
”Jika dihitung dalam sebulan, biaya penyeberangan jembatan darurat yang saya keluarkan setara dengan harga lima sak semen. Mau bagaimana lagi, ini satu-satunya akses menuju sekolah,” ujar pahlawan tanpa tanda jasa tersebut yang meminta namanya tidak dipublikasikan, Selasa (21/7/2026).
Potret ini memperlihatkan kontras yang tajam: seorang pendidik yang berjuang mencerdaskan generasi penerus bangsa di pelosok daerah justru harus merogoh kocek pribadi hanya untuk mendapatkan akses jalan menuju tempatnya mengajar.
Akses Vital yang Bertaruh Keselamatan
Jalur yang membelah Kali Iwul dan Kali Wae Kuse bukan sekadar pelintas biasa, melainkan akses tunggal yang menghubungkan ketiga desa tersebut ke pusat-pusat pelayanan publik. Setiap hari, rute ini dilalui oleh:
- Siswa-siswi yang pergi dan pulang sekolah.
- Petani yang membawa hasil panen ke pasar daerah.
- Masyarakat umum yang membutuhkan akses kesehatan ke Puskesmas setempat.
Kondisi kian mengkhawatirkan saat musim hujan tiba. Ketika debit air Kali Iwul dan Kali Wae Kuse meluap, jembatan kayu kerap tak bisa dilalui. Tak jarang, warga harus bergotong royong mendorong bahkan memikul kendaraan melintasi derasnya arus sungai demi mencapai tujuan.
Dampak Ketiadaan Jembatan Permanen:
- Pendidikan: Guru, murid terbeban biaya dan resiko keselamatan.
- Ekonomi: Biaya logistik hasil pertanian melambung.
- Kesehatan: Akses darurat menuju fasilitas kesehatan terhambat.
Masyarakat Menagih Kehadiran Negara
Pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan merupakan kewajiban konstitusional pemerintah daerah dalam menjamin hak-hak dasar warga negara. Inisiatif warga membangun jembatan darurat adalah bentuk pertahanan diri dari ketertinggalan, bukan pertanda bahwa peran negara dapat diabaikan.
Masyarakat Pesisir Selatan Satarmese kini mendesak Bupati Manggarai untuk mengambil langkah konkret dengan meninjau langsung kondisi di lapangan. Warga berharap pembangunan jembatan permanen di Kali Iwul dan Kali Wae Kuse serta peningkatan ruas jalan menuju Desa Langgo, Desa Tado, dan Desa Koak dapat segera dimasukkan dalam skala prioritas anggaran daerah.
Pemerataan pembangunan tidak boleh hanya berhenti sebagai wacana di atas kertas. Selama guru masih harus membayar untuk mengajar dan warga bertaruh keselamatan di atas jembatan darurat, komitmen pelayanan publik di Kabupaten Manggarai masih terus dipertanyakan. (*)
Penulis: Rudolf
Editor: Redaksi