Daerah  

Menjaga Wajah Warisan Dunia: Closing Meeting Revalidasi Ijen Geopark Tegaskan Komitmen Konservasi dan Sustainabilitas di Bondowoso

Kawasan Ijen UNESCO Global Geopark di Bondowoso. (Fot Ist)

​Bondowoso, Obor Rakyat — Rangkaian evaluasi lapangan dalam rangka revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark di wilayah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, resmi memasuki fase krusial melalui pelaksanaan Closing Meeting, Kamis (6/8/2026).

Agenda penutupan yang dihadiri oleh tim asesor internasional, jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso, pengelola pengurus harian Geopark, serta pemangku kepentingan lintas sektor ini menjadi momentum reflektif atas dinamika tata kelola warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya di kawasan bumi Ki Ronggo.

​Proses revalidasi ini bukan sekadar formalitas periodik empat tahunan, melainkan sebuah audit komprehensif yang menilai sejauh mana implementasi paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable development) telah terintegrasi dalam lanskap lokal.

Konsolidasi Tiga Pilar: Geodiversitas, Biodiversitas, dan Kultural

​Dalam paparan, tim asesor memberikan apresiasi tajam sekaligus catatan strategis terhadap efektivitas konservasi dan edukasi publik yang telah berjalan.

Pendekatan holistik yang mengintegrasikan pilar geodiversitas (keanekaragaman geologi), biodiversitas (keanekaragaman hayati), dan kultural di wilayah Bondowoso dinilai memiliki artikulasi yang kuat pada keterlibatan masyarakat akar rumput.

​”Geopark bukan semata-mata tentang batu dan lanskap alam yang statis, melainkan tentang bagaimana komunitas lokal berinteraksi, memelihara, dan memperoleh manfaat kebudayaan serta ekonomi secara berkeadilan tanpa merusak ambang batas ekologisnya.”

​Para asesor menyoroti keunikan situs-situs geologi di Bondowoso, seperti fenomena vulkanisme kompleks Ijen, situs megalitikum yang kaya, hingga komoditas unggulan kopi arabika kawasan megit, sebagai manifestasi harmonis antara bentang alam (landscape) dan bentang budaya (seascape/cultural landscape).

Baca Juga :  Evakuasi Tuntas di Medan Terjal Gunung Piramid, Kapolres Bondowoso Apresiasi Sinergi Tim Gabungan

Catatan Evaluatif dan Rekomendasi Penajaman

​Meski mencatatkan progres signifikan sejak penetapan perdananya, Closing Meeting ini membedah beberapa aspek yang memerlukan akselerasi dan penajaman berkelanjutan, di antaranya:

  • Penguatan Visibilitas dan Aksesibilitas Informasi: Pembenahan infrastruktur narasi (interpretation boards) yang bermutu akademik namun mudah dicerna oleh publik lintas generasi.
  • Mitigasi Bencana dan Mitigasi Iklim: Integrasi sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan yang adaptif di sekitar kawasan rawan geologi.
  • Empowerment Komunitas Lokal: Peningkatan kapasitas kelembagaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan UMKM berbasis produk lokal berlabel Geopark Product.
  • ​Riset dan Sinergi Akademis: Perluasan jejaring riset dengan perguruan tinggi untuk memastikan setiap kebijakan pengelolaan berbasis pada bukti ilmiah (evidence-based policy).
  • Komitmen Pemerintah Daerah: Transformasi Kolektif

​Menanggapi pandangan dan rekomendasi dari tim asesor, Pemkab Bondowoso menegaskan komitmennya untuk tidak menjadikan predikat status UNESCO sekadar sebagai badge of honor (tanda kehormatan), melainkan sebagai kompas pembangunan daerah.

​Langkah tindak lanjut akan diwujudkan melalui penguatan alokasi regulasi, sinergi lintas dinas, serta kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan pemerintah. Hasil resmi berupa green card (perpanjangan status), yellow card (catatan perbaikan khusus), atau red card akan ditetapkan secara resmi dalam sidang Dewan Geopark Global UNESCO mendatang.

Namun, proses evaluasi ini telah berhasil mempertegas posisi Bondowoso dalam panggung diplomasi lingkungan dan pariwisata berkelanjutan tingkat global. (*)


Penulis: Latif J
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *