
Bondowoso, Obor Rakyat — Lambatnya progres pembangunan Jembatan Sentong di perbatasan Desa Sukowiryo dan Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso, kini menjadi sorotan tajam. Infrastruktur vital yang menghubungkan poros utama lintas kabupaten antara Bondowoso dan Jember tersebut dinilai mandek, sehingga memicu dampak sistemik yang merugikan sektor logistik, perekonomian regional, hingga akses pendidikan masyarakat setempat.
Sebagai informasi, jembatan di ruas jalan provinsi ini tengah dibangun ulang setelah mengalami kerusakan total (ambrol) beberapa bulan lalu akibat tergerus fluktuasi debit banjir. Proyek strategis ini berada di bawah naungan penuh Dinas Bina Marga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dengan alokasi anggaran fantastis mencapai Rp 17,5 miliar.
Namun, realisasi di lapangan memicu skeptisisme publik. Minimnya kuantitas tenaga kerja yang dikerahkan oleh pihak kontraktor membuat metode pengerjaan proyek bernilai miliaran ini dikritik menyerupai pembangunan rumah pribadi.
Desakan Percepatan dan Modernisasi Konstruksi
Menanggapi keluhan masyarakat, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Gerindra, Ahmad Hadinuddin, menegaskan bahwa lambatnya penuntasan Jembatan Sentong berpotensi memperlebar akumulasi kerugian sosial-ekonomi warga. Ia mendesak pihak pelaksana proyek untuk segera melakukan evaluasi manajemen kerja.
”Percepatan pekerjaan dapat dilakukan dengan menambah jumlah tenaga kerja serta memanfaatkan peralatan konstruksi yang lebih modern dan efisien,” ujar Ahmad Hadi Nurdin, dilansir dari beritajatim.com, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, sebagai jalur logistik utama, sirkulasi barang dan jasa tidak boleh dihambat lebih lama. Urgensi penyelesaian proyek ini harus menjadi prioritas mutlak demi memulihkan stabilitas wilayah perbatasan tersebut.
Efek Domino: Kerusakan Jalan Desa dan Disrupsi Multisektor
Keterlambatan ini menciptakan efek domino yang membebani infrastruktur sekunder. Akibat penutupan jalur utama, arus kendaraan—termasuk armada bermuatan berat—terpaksa dialihkan ke jalur alternatif di kawasan pedesaan Kabupaten Bondowoso. Imbasnya, jalan-jalan desa yang tidak didesain untuk tonase besar kini mengalami kerusakan masif.
Selain degradasi kualitas jalan, rute alternatif yang memutar jauh ini secara langsung mengganggu stabilitas tiga sektor krusial:
- Logistik & Distribusi: Pembengkakan biaya operasional akibat waktu tempuh yang lebih lama.
- Perekonomian Lokal: Penurunan omzet pelaku usaha mikro di sepanjang jalur utama yang sepi.
- Pendidikan: Hambatan mobilitas bagi pelajar dan tenaga pendidik yang harus menghadapi rute perjalanan yang lebih jauh dan rusak.
Solusi Responsif: Usulan Kompensasi Bantuan Keuangan (BK) Provinsi
Mengingat seluruh otoritas proyek—mulai dari proses lelang, pengawasan, hingga Surat Pertanggungjawaban (SPJ)—berada di ranah Pemprov Jatim, Pemerintah Daerah (Pemda) Bondowoso praktis berada pada posisi terdampak yang dirugikan secara sepihak.
Merespons dinamika ini, Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso, Ahmad Dhafir, menyampaikan pandangan strategisnya. Politisi dari Fraksi PKB ini menilai langkah paling adil dan rasional adalah keterlibatan legislatif tingkat provinsi untuk memperjuangkan hak daerah yang terdampak.
”Proyek jembatan Sentong ini anggaran provinsi, lelang proyeknya provinsi, pengawasan provinsi, SPJ provinsi, masuk LKPJ Gubernur ke DPRD provinsi. Pemda Bondowoso terdampak. Maka cocok kalau DPRD provinsi berjuang dan berhasil mengalokasikan anggaran provinsi berupa Bantuan Keuangan (BK) pada Pemda Bondowoso sebagai kompensasi pembangunan jalan alternatif,” tegas Ahmad Dhafir, Minggu (21/6/2026).
Skema Bantuan Keuangan (BK) ini dinilai sebagai solusi konkret untuk memulihkan kerusakan jalan-jalan desa di Bondowoso tanpa harus menguras APBD kabupaten, sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab moral Pemprov Jatim atas dampak pembangunan infrastruktur yang molor tersebut.
Kesinergisan antara percepatan teknis di lapangan dan kompensasi finansial untuk perbaikan jalur alternatif kini menjadi kunci utama penyelesaian krisis infrastruktur di Bondowoso. (*)
Penulis: Latif J