Daerah  

Tak Dihadiri Narasumber Undangan, Debat Terbuka Kebijakan Pemkab Bondowoso Dialihkan ke Diskusi Daring

​Bondowoso, Obor Rakyat — Diskusi dan debat terbuka mengenai kritik kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso yang digagas oleh aktivis perempuan Yuli Anggraeni di Cafe Bunga Pelita, Kamis (13/8/2026) malam, batal menghadirkan pihak pemicu diskusi. Tiga pemilik akun media sosial yang diundang secara khusus sebagai lawan debat tidak hadir di lokasi acara.
Yuli Anggraini bersama rekannya. (Fot Ist)

​Bondowoso, Obor Rakyat — Diskusi dan debat terbuka mengenai kritik kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso yang digagas oleh aktivis perempuan Yuli Anggraeni di Cafe Bunga Pelita, Kamis (13/8/2026) malam, batal menghadirkan pihak pemicu diskusi. Tiga pemilik akun media sosial yang diundang secara khusus sebagai lawan debat tidak hadir di lokasi acara.

​Sebelumnya, Yuli menyebarkan pamflet undangan terbuka melalui media sosial Facebook yang ditujukan kepada tiga akun, yakni Balap Tawon, Woso So, dan Dani Denok.

Langkah tersebut diambil Yuli sebagai respons atas narasi serangan personal yang kerap dilontarkan ketiga akun tersebut kepadanya di ruang digital.

​”Ketiga akun itu kerap menyerang pribadi saya. Karena itu, sengaja saya tantang untuk hadir dalam debat terbuka malam ini,” ujar Yuli di lokasi acara, Kamis (13/8/2026).

​Demi terlaksananya forum publik tersebut, Yuli mengaku rela memotong masa kegiatannya di Jawa Tengah untuk kembali lebih awal ke Bondowoso, sekaligus menanggung seluruh biaya penyewaan tempat acara.

​Lantaran ketiga pihak yang diundang tidak hadir hingga batas waktu yang ditentukan, format kegiatan dialihkan menjadi diskusi interaktif secara dalam jaringan (daring) melalui saluran TikTok Media Obor Rakyat.

Baca Juga :  207 Tahun Bondowoso: Menagih Sentuhan Pembangunan di Tengah Bahaya Stagnasi Regional

​Dalam ruang diskusi alternatif tersebut, Yuli bersama para partisipan yang hadir membedah sejumlah isu krusial terkait tata kelola pemerintahan daerah.

Diskusi tersebut menghasilkan tiga poin aspirasi utama yang ditujukan kepada Pemkab Bondowoso:

  1. Kehadiran Pemimpin di Tengah Masyarakat: Bupati Bondowoso didorong untuk lebih aktif turun langsung ke lapangan (blusukan) guna menyerap keluhan dan aspirasi warga secara mendasar.
  2. ​Evaluasi Penyaluran Bantuan Hibah: Pemerintah daerah diminta melakukan kaji ulang terhadap skema penyaluran bantuan hibah kepada organisasi kemasyarakatan (ormas) tertentu yang dinilai terindikasi sarat keberpihakan.
  3. ​Peningkatan Responsivitas Birokrasi: Mendorong pembenahan pola dan mekanisme respons pemerintah daerah dalam menanggapi aduan serta aspirasi masyarakat agar lebih efektif.

​Hingga berita ini diturunkan, ketiga pemilik akun Facebook tersebut belum memberikan pernyataan resmi terkait alasan ketidakhadiran mereka dalam forum debat terbuka tersebut. (*)


Penulis: Syayudi
Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *