
Bondowoso, Obor Rakyat — Inisiatif pertunjukan musik akustik Gledek Lajuh yang digelar setiap Jumat malam di kawasan ikonik Jembatan Kironggo, Bondowoso, dipandang bukan sekadar agenda hiburan komunal.
Aktivitas kebudayaan ini dinilai menjadi katalisator strategis dalam merevitalisasi fungsi sosial ruang publik, sekaligus menyediakan ruang inklusif bagi reaktualisasi kreativitas generasi muda.
Transformasi Infrastruktur Menjadi Ruang Sosio-Kultural
Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Bondowoso, Fricas Abdillah, menegaskan bahwa dinamika seni di ruang terbuka memiliki implikasi positif terhadap interaksi warga.
Lanskap perkotaan tidak cukup hanya dipandang dari aspek fisik-infrastruktural, tetapi harus diisi dengan aktivitas yang memberi nilai tambah bagi komunitasnya.
”Unjuk seni musik di Jembatan Kironggo bukan sekadar pertunjukan rutin, melainkan indikator bahwa ruang publik daerah ini kembali memiliki denyut kehidupan yang inklusif,” ujar Fricas pada Jumat malam (14/8/2026).
Melalui sentuhan seni, kawasan Jembatan Kironggo dinilai berhasil bertransformasi dari sekadar sarana perlintasan menjadi simpul perjumpaan sosial yang memperkuat identitas budaya lokal Bondowoso.
Harmonisasi Antara Ekspresi Kreatif dan Ketertiban Umum
Kendati mengapresiasi geliat kesenian generasi muda, FKDM Bondowoso menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan ketertiban kolektif. Keberlanjutan pemanfaatan ruang publik sangat bergantung pada tanggung jawab sosial para pelakunya.
Fricas menekankan beberapa elemen kunci yang harus dijaga agar ruang ekspresi ini dapat bertahan secara berkelanjutan:
- Integritas Lingkungan: Menjaga kebersihan area publik pasca-kegiatan secara mandiri.
- Keamanan & Keselamatan: Memastikan aktivitas seni tidak mengganggu aspek keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas.
- Toleransi Sosial: Menghormati hak-hak kenyamanan warga dan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan jembatan.
”Semangat berkesenian harus berjalan beriringan dengan ketertiban dan rasa hormat terhadap hak publik. Jangan sampai ruang ekspresi yang sudah terbangun baik ini justru terdistorsi menjadi potensi persoalan baru,” tegas Fricas.
Mendorong Ekosistem Ekonomi Kreatif Berkelanjutan
Jika dikelola secara konsisten, terstruktur, dan berwawasan lingkungan, panggung seni mingguan ini berpotensi memberikan dampak pengganda (multiplier effect) bagi ekosistem ekonomi kreatif daerah. Aktivitas ini tidak hanya memberikan panggung bagi musisi lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para pelaku UMKM di sekitar lokasi.
Keberhasilan proyek sosial-budaya ini pada akhirnya membutuhkan komitmen bersama antara komunitas, masyarakat, dan pemangku kepentingan.
Dengan menjaga keseimbangan antara estetika, kreativitas, dan ketertiban, Jembatan Kironggo berpeluang tumbuh menjadi simbol baru kemajuan ruang publik yang responsif dan beradab di Kabupaten Bondowoso. (*)
Penulis: Latif J
Editor: Redaksi